Selasa, 19 September 2017

TOBONG – Balada Seorang Lèrok oleh IDRUS J. EKO ISBN: 978-602-6510-56-3


“TOBONG – Balada Seorang Lèrok
by: IDRUS J. EKO


Kisah ini terjadi pada sekitar tahun 2007, 1 tahun setelah bencana Lumpur Lapindo (Sidoarjo) terjadi. Dan hingga saat ini (2017) “bencana” ini belum menunjukkan tanda-tand berakhir.

Adalah WARDOYO (35 tahun), seorang pemuda agak melambai yang mencoba mempertahankan hidup dengan menjadi pengamen kesenian tradisonal Rèmo. Bersama pamannya, GÊNDON (67 tahun), ia menjadi pengamen Rèmo dari pintu ke pintu, dari satu pasar ke pasar lain. Sang paman, Gêndon (67 tahun mengandalkan sitar Jawa 2 senar untuk mengiringi gerakan Remo keponakannya.

Padahal sekitar 20 tahun sebelumnya, Gêndon adalah pemilik sebuah kesenian Ludruk keliling yang cukup terkenal se-Sidoarjo dan Surabaya. Group Ludruknya sering ditanggap oleh juragan-juragan tambak udang di Sidoarjo dan beberapa juragan lainnya di Surabaya.

Sementara Wardoyo sendiri adalah seorang pemuda yang semula bercita-cita ingin merantau ke Jakarta dan mengadu nasibnya sebagai aktor seperti idolanya, Deddy Mizwar. Karena ia buta soal dunia tersbut, ia berharap bisa memulainya dengan bergabung di kesenian Ludruk keliling milik pamannya, Gêndon.  

Namun nasib berkata lain, sisi gelap kesenian Ludruk itulah yang membuatnya menjadi lelaki kemayu seperti saat ini. Wardoyo sempat menjadi sri panggung kesenian Ludruk pamannya dengan nama panggung, LARASATI.

Pada masanya, kesenian Ludruk pantang sekali melibatkan perempuan sebagai pelakonnya. Ada pelakon pria yang selalu memerankan karakter perempuan dan biasanya disebut LÈROK.

Wardoyo/Larasati berhasil menjadi sri panggung Ludruk pamannya atas bimbingan seniornya, ENDAH/TARJO (43 tahun). Namun 1 hal yang juga “diwariskan” Endah/Tarjo kepada Wardoyo/Larasati: menjadi simpanan seorang pengusaha tambak udang yang biseksual, bernama GONDO (57 tahun). Walau Gêndon sempat mengancam Endah/Tarjo agar 1 hal itu jangan “diwariskan” juga kepada keponakannya, namun demi sejumlah uang, sri panggung sebelum Wardoyo/Larasati tersebut diam-diam tetap menjual keponakan Gêndon tersebut kepada Gondo.

Bahkan untuk “malam pertama”nya, Endah/Tarjo tega memberikan obat perangsang sekaligus obat bius kepada Gondo. Dengan alasan untuk berjaga2 jika seandainya Wardoyo/Larasati tidak mau dengan ikhlas melayani nafsu bejat sang pengusaha biseks tersebut.

Kepada Wardoyo/Larasati, Endah/Tarjo mengatakan sebagai bagian dari pendalaman peran panggungnya, saat pertama kali Gondo ingin berkencan dengan keponakan Gêndon tersebut.

Gêndon menyadari kebebalan sikap sri panggung terdahulunya itu, oleh karenanya ia berharap kepada pelacur langganannya, NING ASTI (18 tahun) agar mau ‘menjaga’ Wardoyo.

Sikap bimbang Ning Asti itu membuahkan bencana buat Wardoyo. Hingga beberapa tahun kemudian, Wardoyo sudah melupakan jatidirinya sebgai sebagai seorang lelaki sejati. Di sisi lain kebimbangan sikap Ning Asti ini dikarenakan rasa cinta yang tulus kepada Gêndon, yang dia simpan rapat-rapat hanya karena ia merasa malu akan profesinya sebagai pelacur.

Bahkan setiap kali Gêndon memberikan uang lebih atas jasa pelayanannya, Ning Asti selalu menabungkannya dan hingga suatu saat ketika dirasa cukup, ia mengajak Gêndon untuk membeli rumah yang akan menjadi tempat tinggal buat mereka berdua hingga akhir hayat mereka.

Salah satu alasan Ning Asti mengajak Gêndon membeli rumah baru dan menjual lahan dimana kini Gêndon tinggal karena di masa mendatang, lahan tempat Gêndon dan kru Ludruk kelilingnya tersebut bakal digusur oleh seorang pengusaha dari Jakarta dan n Gêndon tidak akan bisa terima ganti ruginya. Sebab lahan dimana kru ludruk keliling tinggal saat ini akan menjadi bencana nasional terbesar dan baru reda setelah 33 tahun kemudian.

Awalnya Gêndon merasa enggan mengikuti kemauan Ning Asti. Namun dengan alasan jika mereka membeli rumah baru, Ning Asti bisa ‘menjaga’ Wardoyo, Gêndon pun menurutinya.

Namun hingga akhir hayatnya, Gêndon sama sekali tidak pernah menetap di rumah barunya. Sementara Wardoyo juga merasa risih jika seandainya ia harus serumah dengan wanita yang bukan muhrimnya. Walhasil, keduanya hanya bisa tinggal di sebuah rumah kontrakannya yang cukup murah meriah, tak jauh dari rumah ‘milik’ Ning Asti.


Seiring berjalannya waktu, rupanya cinta tumbuh juga di antara Wardoyo dan Ning Asti. Perlahan tapi pasti, jati diri Wardoyo sebagai lelaki sejati mulai kembali karena kesabaran Ning Asti. Disamping penyebab lainnya adalah warisan terakhir (dan satu-satunya) dari almahrum ibu Wardoyo: sepasang seragam lusuh TNI AD milik ayahnya.

Tobong: Balada Seorang Lerok ISBN: 978-602-6510-56-3 dapat diunduh secara langsung di An1mage Store.